Laporkan konten ini jika melanggar ketentuan, mengandung materi sensitif, atau hak cipta.

JUDUL: AJARI ANAK MASUK RUMAH SEBELUM MAGHRIB

JUDUL: AJARI ANAK MASUK RUMAH SEBELUM MAGHRIB gambar oleh Titra Ghulaam
--- Pelan-pelan saja, yang penting sampai. Termasuk dalam belajar untuk mengajari anak pulang sebelum Maghrib. Dulu, waktu kita kecil, nasihat itu terdengar seperti ini dari ibu kita di depan pintu: "Nak, sudah mau Maghrib, masuk!" Kita yang lagi asyik main kelereng, main petak umpet, main bola di tanah lapang, rasanya kesal. Ah, ibu ini ganggu saja. Baru juga asyik. Matahari masih ada sedikit. Kenapa harus disuruh masuk sekarang? Tapi sekarang, setelah kita menjadi orang tua, barulah kita paham. Perintah sederhana itu ternyata bukan sekedar perintah. Itu adalah bentuk penjagaan paling tulus yang pernah ada. Maghrib itu bukan sekedar pergantian waktu dari siang ke malam. Maghrib adalah batas. Batas antara terang dan gelap. Batas antara dunia yang terlihat dan yang tidak terlihat. Dan anak-anak kita, dengan jiwanya yang masih bersih dan peka, perlu kita jaga di waktu batas itu. Mungkin kamu pernah mendengar orang tua dulu berkata, kalau waktu Maghrib itu anginnya berbeda. Udara mulai dingin, bayangan mulai panjang, dan suasana menjadi sunyi. Di saat itulah, anak-anak yang masih di luar akan lebih mudah sakit, lebih mudah terjatuh, lebih mudah bertemu dengan hal-hal yang tidak baik. Secara kesehatan pun, ini benar. Waktu Maghrib adalah waktu pergantian suhu yang drastis. Dari panas ke dingin. Tubuh anak yang masih berkeringat karena seharian bermain, kalau terkena angin Maghrib, bisa langsung masuk angin, demam, batuk pilek. Ibu kita dulu tidak belajar ilmu kedokteran, tapi firasat seorang ibu selalu benar. Secara agama, Rasulullah pun sudah mengingatkan kita. Dalam sebuah riwayat disebutkan, jika malam mulai datang atau sudah memasuki waktu Maghrib, tahanlah anak-anak kalian. Karena pada saat itu makhluk yang tidak terlihat sedang bertebaran. Jika sudah lewat beberapa saat dari waktu Isya, maka lepaskanlah mereka. Itu bukan untuk menakuti. Itu untuk menjaga. Anak kecil itu masih suci. Matanya masih bersih. Kadang dia bisa melihat apa yang orang dewasa tidak bisa lihat. Karena itu dia mudah terkejut, mudah menangis tanpa sebab saat Maghrib. Maka tugas kita sebagai orang tua adalah menjadi perisainya. Tapi bagaimana cara mengajari anak zaman sekarang untuk masuk rumah sebelum Maghrib? Anak yang HP-nya lebih menarik daripada suara adzan. Anak yang mainnya bukan di lapangan, tapi di depan gang sambil main game bersama teman-temannya. Jangan dengan marah-marah, sayang. Jangan dengan teriakan. Aku pernah melihat sebuah dialog yang indah antara seorang ayah dan anaknya. Mungkin ini bisa kamu contoh di rumah. Suatu sore, jam 17.40. Matahari sudah oranye. Adzan Maghrib sekitar 15 menit lagi. Anak laki-laki umur 7 tahun masih asyik main sepeda di halaman. Ibunya dari dalam rumah sudah mau teriak: "FARIZ! MASUK! MAGHRIB!" Tapi ayahnya menahan. Ayahnya berjalan pelan menghampiri anaknya, lalu jongkok sejajar dengan tinggi anaknya. Ayah: "Wah, sepedanya kencang sekali. Hebat." Fariz: "Iya Yah, lihat, aku bisa lepas satu tangan!" Ayah: "Wah hebat sekali anak Ayah. Ayah bangga. Oh iya, Fariz dengar gak suara itu?" Fariz: "Suara apa Yah?" Ayah: "Coba dengar pelan-pelan. Anginnya sudah mulai beda. Burung-burung juga sudah pulang ke sarangnya. Matahari juga sudah mau pulang ke rumahnya." Fariz diam mendengarkan. Ayah: "Matahari saja pulang, masa Fariz belum pulang? Rumah kita sudah menunggu. Sajadah sudah menunggu. Allah juga sudah memanggil kita lewat adzan nanti. Kalau kita masuk rumah sekarang, kita bisa wudhu sama-sama, sholat sama-sama, terus kita bisa cerita-cerita tadi main apa saja. Gimana?" Fariz: "Tapi mainnya belum selesai Yah." Ayah: "Mainnya tidak selesai, hanya istirahat. Besok pagi, sepedanya masih ada di sini, teman-teman masih ada, lapangan masih ada. Tapi waktu Maghrib ini, cuma ada sebentar. Kalau kita lewatkan, kita rugi. Kita jadi tidak dapat pahala tepat waktu. Ayah mau Fariz jadi tim Ayah untuk dapat pahala tepat waktu, mau?" Fariz mengangguk. "Mau Yah." Ayah: "Kalau begitu, ayo kita balapan, siapa yang duluan sampai tempat wudhu." Dan mereka pun lari bersama, tertawa bersama masuk ke rumah. Tidak ada tangisan. Tidak ada paksaan. Yang ada adalah pemahaman. Itulah kuncinya, sayang. Ajari anak masuk rumah sebelum Maghrib bukan dengan rasa takut, tapi dengan rasa cinta untuk pulang. Buatlah rumah menjadi tempat paling nyaman untuk pulang. Bukan tempat yang isinya hanya perintah dan larangan. Bagaimana caranya? Pertama, jadikan momen Maghrib sebagai momen paling hangat di rumah. 10 menit sebelum adzan, matikan TV yang berisik. Nyalakan lampu yang terang. Siapkan air wudhu yang hangat. Ibu sudah di sajadah. Ayah sudah siap menjadi imam. Anak melihat pemandangan itu setiap hari, maka hatinya akan terpanggil untuk ikut masuk ke dalam lingkaran hangat itu. Dia tidak merasa disuruh masuk, tapi dia merasa diajak masuk ke dalam cinta. Kedua, beri dia tanggung jawab. Nak, sebentar lagi Maghrib, tolong bantu Ayah lipat sajadah ya. Nak, tolong bantu Ibu matikan lampu teras dan tutup pintu ya. Anak kecil itu senang kalau diberi peran. Dia merasa penting. Dengan begitu, pulang sebelum Maghrib bukan beban, tapi sebuah tugas mulia sebagai penjaga rumah. Ketiga, konsisten. Jangan hari ini disuruh masuk, besok dibiarkan main sampai Isya karena kita lagi sibuk main HP. Anak itu perekam yang handal. Dia akan merekam apa yang kita lakukan, bukan apa yang kita katakan. Kalau kita konsisten jam 18.00 semua sudah di dalam rumah, dalam waktu 40 hari, itu akan menjadi kebiasaan yang tertanam sampai dia dewasa nanti. Kelak, ketika anakmu sudah besar, sudah merantau ke kota lain untuk sekolah atau bekerja, dia akan ingat. Saat Maghrib tiba, hatinya akan gelisah kalau belum pulang. Bukan karena takut dimarahi ibu, tapi karena dia rindu suasana Maghrib di rumahnya. Rindu suara adzan, rindu wudhu bersama, rindu doa bersama. Dan itulah warisan terbaik yang bisa kamu berikan. Bukan warisan harta, tapi warisan kebiasaan menjaga waktu. Jadi sore ini, kalau kamu melihat anakmu masih di luar, jangan langsung berteriak dari jauh. Datangi dia. Jongkok sejajar dengannya. Tatap matanya. Dan ajak dia pulang dengan penuh cinta. Katakan: Nak, ayo pulang. Waktu pulang sudah tiba. Rumah kita sudah rindu. Karena anak yang terbiasa masuk rumah sebelum Maghrib, insya Allah akan tumbuh menjadi anak yang tahu kemana harus pulang, saat dunia di luar sana mulai gelap. Pelan-pelan saja, yang penting sampai. Termasuk dalam mengajari anak kita untuk mencintai rumahnya. --- #NasihatSore #DidikAnak #WaktuMaghrib #KeluargaBahagia #PesanOrangTua
Advertisement Advertisement
Menu Post
Laporkan Konten
Bagikan Posting Ini
Ikuti Pengguna

Blokir Pengguna

Hapus Postingan

Apakah Anda yakin ingin menghapus postingan ini? Tindakan ini tidak dapat dibatalkan.

2 Komentar