Aryo
3 jam
Laporkan konten ini jika melanggar ketentuan, mengandung materi sensitif, atau hak cipta.

MISTERI ALAS ROBAN

MISTERI ALAS ROBAN gambar oleh Aryo
Hutan Tua, Jeritan Tengah Malam, dan Penumpang yang Tidak Pernah Turun Cerita horor mistis berlatar Alas Roban, Batang, Jawa Tengah. Malam itu, hujan turun deras di sepanjang jalur Alas Roban, Batang, Jawa Tengah. Kabut menggantung rendah, menutupi pepohonan tua yang berdiri rapat di kanan kiri jalan. Cahaya lampu kendaraan hanya mampu menembus beberapa meter sebelum ditelan kegelapan. Bagi sebagian orang, Alas Roban hanyalah jalur hutan yang terkenal dengan tanjakan, tikungan, dan sejarah kecelakaannya. Namun, bagi mereka yang pernah melintasinya pada malam-malam tertentu, ada cerita lain yang sulit dijelaskan. Cerita tentang suara tangisan dari balik pohon, sosok perempuan berbaju putih, dan penumpang yang tiba-tiba muncul di tengah jalan. Malam itu, seorang sopir bernama Darto mengalami kejadian yang mengubah hidupnya. Darto sudah lebih dari lima belas tahun bekerja sebagai sopir truk antarkota. Ia hafal jalanan Pantura, termasuk jalur Alas Roban yang terkenal menantang. Ia bukan orang yang mudah percaya cerita mistis. Baginya, semua kejadian aneh pasti memiliki penjelasan yang masuk akal. Sekitar pukul 23.47, ketika truknya memasuki kawasan hutan, radio mendadak mati. Mesin tetap menyala, tetapi seluruh suara dari pengeras radio menghilang. Darto mengernyit. “Ah, paling sinyalnya hilang,” gumamnya. Ia melanjutkan perjalanan. Beberapa menit kemudian, matanya menangkap sosok perempuan berdiri di pinggir jalan. Perempuan itu mengenakan kebaya putih lusuh, rambutnya panjang menutupi sebagian wajah, dan tangannya terangkat seperti meminta pertolongan. Darto mengurangi kecepatan. Di tengah hujan deras, ia melihat perempuan itu tidak membawa payung. Anehnya, rambut dan pakaiannya tampak kering. Darto membuka sedikit kaca jendela. “Mau ke mana, Mbak?” Perempuan itu tidak menjawab. Ia hanya menunjuk ke arah bangku penumpang di samping Darto. Karena merasa kasihan, Darto membuka pintu. Perempuan itu naik tanpa suara. “Turun di mana, Mbak?” tanyanya. “Di tempat saya menunggu,” jawab perempuan itu lirih. Darto menoleh sebentar. “Tempatnya di mana?” Perempuan itu menatap lurus ke depan. “Nanti juga Bapak tahu.” Ada sesuatu dalam suaranya yang membuat tengkuk Darto meremang. Namun, ia mencoba mengabaikannya. Beberapa menit berlalu. Truk melaju melewati jalan yang berkelok-kelok. Darto sesekali melirik perempuan itu melalui sudut matanya. Wajahnya tidak terlihat jelas. Tiba-tiba, perempuan itu bertanya, “Pak, apa Bapak melihat anak saya?” Darto menggeleng. “Anaknya di mana?” “Sudah lama hilang di hutan ini.” Belum sempat Darto menjawab, perempuan itu mulai menangis. Tangisannya pelan pada awalnya. Lalu semakin keras, bercampur suara seperti seseorang mengerang kesakitan. Darto menghentikan truk di tempat yang cukup aman dan menoleh. Bangku penumpang kosong. Pintu terkunci. Tidak ada siapa-siapa. Namun, di jok terdapat bekas air yang membentuk jejak telapak tangan kecil. Jejak itu perlahan menghilang di depan matanya. Darto langsung menginjak pedal gas. Ia tidak berhenti sampai menemukan sebuah warung kecil di tepi jalan. Di sana, seorang lelaki tua sedang duduk di dekat lampu minyak. Darto turun dengan napas memburu dan menceritakan kejadian yang baru dialaminya. Lelaki tua itu tidak tampak terkejut. “Perempuan berbaju putih?” tanyanya. Darto mengangguk. Orang tua itu memandang ke arah hutan. “Kalau benar yang Bapak lihat itu sosok yang sama dengan yang sering diceritakan orang-orang di sini, jangan pernah menjemputnya lagi.” “Memangnya siapa dia?” Lelaki tua itu terdiam cukup lama sebelum menjawab. “Orang-orang punya banyak cerita tentang Alas Roban. Ada yang menyebutnya penunggu hutan. Ada yang menghubungkannya dengan kisah lama dan arwah orang-orang yang meninggal di jalan ini. Tapi tidak semua cerita bisa dibuktikan.” Darto menelan ludah. “Lalu kenapa dia naik ke truk saya?” Orang tua itu menatapnya tajam. “Barangkali bukan dia yang ingin ikut dengan Bapak.” “Maksudnya?” “Barangkali ada sesuatu yang ingin ikut pulang.” Darto merasakan tubuhnya membeku. Ia segera kembali ke truk dan memutuskan melanjutkan perjalanan. Namun, sebelum berangkat, lelaki tua itu memberikan satu pesan. “Kalau nanti ada yang mengetuk pintu truk tiga kali, jangan langsung dibuka. Lihat dulu siapa yang mengetuk.” Darto mengangguk, lalu pergi. Pukul 02.13 dini hari, ketika ia hampir keluar dari kawasan hutan, terdengar suara dari bak belakang truk. Tok... tok... tok... Darto terkejut. Ia melihat kaca spion. Tidak ada kendaraan di belakangnya. Suara itu terdengar lagi. Tok... tok... tok... Kali ini disusul suara anak kecil. “Pak... tolong turunkan Ibu saya.” Darto hampir kehilangan kendali. Ia menghentikan truk dan turun sambil membawa senter. Bak belakang kosong. Tidak ada barang yang bergerak. Tidak ada orang. Hanya terpal basah dan tumpukan muatan yang terikat rapi. Ketika hendak naik kembali, senter Darto menyorot sesuatu di tanah. Jejak kaki kecil. Jejak itu bermula dari bawah truk, berjalan menuju pintu pengemudi, lalu berhenti tepat di tempat ia berdiri. Darto segera masuk dan mengunci pintu. Saat mesin kembali dinyalakan, radio yang sebelumnya mati mendadak hidup sendiri. Terdengar suara perempuan menyanyikan tembang Jawa dengan lirih. Di sela-sela nyanyian itu, muncul suara anak kecil. “Bu... kita sudah sampai?” Lalu terdengar jawaban perempuan tersebut. “Belum, Nak. Ibumu masih harus mencari seseorang.” Darto mematikan radio. Namun, suara itu tetap terdengar. Bukan dari radio. Melainkan dari kursi belakang kabin. Dengan tangan gemetar, Darto melihat kaca spion tengah. Di belakangnya duduk perempuan berbaju putih itu. Kali ini wajahnya terlihat jelas. Kulitnya pucat, matanya hitam, dan bibirnya tersenyum tipis. Di pangkuannya duduk seorang anak kecil yang wajahnya tertutup rambut panjang. Perempuan itu berbisik, “Terima kasih sudah mengantar saya.” Darto menjerit dan menginjak pedal gas. Ia tidak berani melihat ke belakang sampai akhirnya memasuki kawasan permukiman yang mulai ramai. Ketika tiba di tempat tujuan, ia langsung turun dan meminta bantuan seorang petugas keamanan untuk memeriksa kabin. Tidak ada siapa-siapa. Namun, di kursi belakang ditemukan sehelai kain putih yang basah dan selembar foto tua. Foto itu memperlihatkan seorang perempuan menggendong anak kecil di depan pepohonan lebat. Di bagian belakang foto tertulis sebuah tanggal yang sudah pudar, serta kalimat: “Kami masih menunggu di jalan yang sama.” Darto menyimpan foto itu karena penasaran. Beberapa hari kemudian, ia kembali melewati Alas Roban pada siang hari. Ia berhenti di sebuah warung dan menunjukkan foto tersebut kepada pemiliknya. Wajah pemilik warung langsung berubah pucat. “Dari mana Bapak mendapatkan foto ini?” Darto menceritakan semuanya. Lelaki itu terdiam, lalu berkata bahwa foto tersebut mengingatkannya pada sebuah kisah lama yang pernah diceritakan keluarganya. Konon, pernah ada seorang perempuan yang mencari anaknya setelah keduanya terpisah dalam sebuah perjalanan. Cerita itu diwariskan dari mulut ke mulut, tetapi tidak ada bukti yang cukup untuk memastikan apakah foto tersebut benar-benar berkaitan dengan kisah itu. Darto bertanya, “Kalau begitu, siapa yang sebenarnya saya bawa?” Pemilik warung tidak menjawab. Ia hanya meminta Darto meninggalkan foto itu di sana. Namun, Darto menolak. Ia memasukkan foto tersebut ke dompet dan pergi. Sejak malam itu, setiap kali berkendara melewati jalan yang sepi, ia selalu mendengar ketukan dari belakang truknya. Tiga kali. Tok... tok... tok... Ia juga mulai bermimpi tentang seorang anak kecil yang berdiri di tengah hutan, memanggil seorang perempuan yang tak pernah datang menjemputnya. Hingga suatu malam, Darto menerima telepon dari nomor tidak dikenal. Suara seorang anak kecil terdengar dari seberang. “Pak Darto, kenapa Ibu belum pulang?” Darto terdiam. “Siapa kamu?” Anak itu menjawab dengan suara lirih. “Saya yang duduk di belakang Bapak malam itu.” Sambungan terputus. Dengan tangan gemetar, Darto membuka dompetnya untuk mengambil foto tua tersebut. Foto itu masih ada, tetapi kini ada perubahan yang membuat darahnya serasa berhenti mengalir. Di dalam foto, perempuan itu masih menggendong anak kecil. Namun, di belakang mereka kini berdiri seorang lelaki berseragam sopir. Wajah lelaki itu adalah wajah Darto sendiri. Dan di bagian belakang foto, tulisan baru muncul: “Sekarang giliranmu yang menunggu.” Keesokan paginya, truk Darto ditemukan terparkir di pinggir jalur Alas Roban. Mesinnya masih menyala, pintunya terkunci, dan barang bawaannya tetap utuh. Namun, Darto tidak ditemukan. Polisi melakukan pencarian, tetapi tidak menemukan jejak yang dapat menjelaskan kepergiannya. Beberapa minggu kemudian, seorang sopir lain mengaku melihat truk yang mirip milik Darto melintas di tengah kabut. Di balik kaca depan, seorang lelaki duduk diam sambil menatap jalan. Di sampingnya, seorang perempuan berbaju putih menggendong anak kecil. Ketika sopir itu mencoba mendekat, truk tersebut menghilang di tikungan. Sejak saat itu, beredar cerita bahwa pada malam-malam tertentu, ada truk tanpa nomor polisi yang melintas di Alas Roban. Sopirnya tidak pernah menyalip kendaraan lain, tidak pernah berhenti di warung, dan selalu membawa dua penumpang yang tidak pernah terlihat turun. Tidak ada bukti yang memastikan cerita tersebut benar. Namun, bagi mereka yang mengaku pernah melihatnya, ada satu hal yang selalu sama. Sebelum truk itu menghilang, terdengar suara anak kecil dari tengah kabut. “Pak... kalau sudah sampai, tolong bilang kepada Ibu bahwa saya masih menunggu.” Pertanyaannya, siapa sebenarnya perempuan dan anak kecil itu? Mengapa Darto menghilang? Dan jika truk tersebut benar-benar membawa mereka, siapa yang kini duduk di balik kemudinya setiap kali kabut turun di Alas Roban? Mungkin semuanya hanya cerita yang diwariskan dari mulut ke mulut. Atau mungkin, ada kisah yang belum pernah benar-benar selesai di hutan tua itu. TAMAT... ATAU BARU SAJA DIMULAI?
Advertisement Advertisement
Menu Post
Laporkan Konten
Bagikan Posting Ini
Ikuti Pengguna

Blokir Pengguna

Hapus Postingan

Apakah Anda yakin ingin menghapus postingan ini? Tindakan ini tidak dapat dibatalkan.

1 Komentar