Laporkan konten ini jika melanggar ketentuan, mengandung materi sensitif, atau hak cipta.
PANCI ABU NAWAS
Manusia itu punya sifat dasar sebagai pemilah informasi. Apabila ada kejadian yang menguntungkan, cenderung kita percaya tanpa banyak tanya. Tapi begitu kejadiannya merugikan diri kita, muncul naluri alami untuk menyangkalnya. Abu Nawas pernah mengajarkan hikmah tentang hal ini, tentu saja dengan gaya dakwah beliau yang unik. Suatu hari beliau pinjam panci tetangganya. Beberapa hari kemudian ia kembalikan, tapi di dalamnya ada panci kecil tambahan. Tetangganya heran, mengapa ada panci kecil yang ikut dikembalikan. Abu Nawas menjawab bahwa pancinya melahirkan di rumah. Oleh karenanya, panci kecil itu hak tetangganya sebagai pemilik panci induknya. Sang tetangga mengucapkan terimakasih kepada Abu Nawas sambil menyembunyikan keheranannya. Baginya yang penting ia dapat panci baru. Pada lain waktu Abu Nawas pinjam panci itu kembali, tentu tetangganya dengan senang hati meminjamkannya lagi. Singkat cerita beberapa hari berlalu pancinya belum dikembalikan. Sang tetangga pun menagihnya. Namun Abu Nawas mengatakan bahwa panci itu meninggal dunia di rumahnya, jadi ia sudah menguburkannya. Sang tetangga lantas emosi, ia menuduh Abu Nawas berbohong karena sebuah panci tak mungkin meninggal! Abu Nawas tertawa dan membalasnya, "Bukankah panci melahirkan juga sama bohongnya dengan panci meninggal!" Demikianlah kita ini punya kecenderungan menerima apa yang sesuai kepentingan kita, dan menolak apa yang bertentangan dengan kepentingan itu. Tanpa disadari, sifat ini merembet ke urusan ibadah. Kita ini juga sering jadi pemilah ibadah. Begitu dengar shalat Dhuha bisa melancarkan rezeki, kita jadi rajin buat menunaikannya. Tapi giliran diajak shalat sunnah qabliyah maupun ba'diyah semangat kita luntur, alasan mulai bermunculan. Apa artinya? Bisa jadi kita adalah pemilah ibadah, hanya bersemangat untuk jenis-jenis ibadah yang sesuai dengan kepentingan kita. Kita semangat sedekah kalau diyakinkan hartanya akan balik berlipat ganda. Surat Al-Waqiah tak pernah kita tinggalkan demi keberkahan dan keberlimpahan. Lalu bagaimana dengan surat-surat lain yang juga disunnahkan dibaca harian, seperti Al-Mulk? Ya sudahlah, kita sama-sama tahu jawabannya. Maka mari kita jujur pada diri sendiri, sebab kisah panci Abu Nawas itu sesungguhnya sedang bercermin pada kita semua. Barangkali selama ini kita menakar ibadah dengan timbangan keuntungan pribadi. Semoga renungan ini menjadi pengingat bersama, agar pelan-pelan kita belajar taat bukan karena hitung-hitungan untung rugi, melainkan karena itu memang perintah-Nya yang patut kita jalankan seutuhnya. Dari hati, untuk hari ini Tulis akun: arafat