Komala Sutha
45 menit
Laporkan konten ini jika melanggar ketentuan, mengandung materi sensitif, atau hak cipta.

Part 3--Mencintaimu Setelah Bercerai

Part 3--Mencintaimu Setelah Bercerai gambar oleh Komala Sutha
(PoV Raisa) Deg. Ada yang menghantam dadaku. Dia begitu tanpa beban sebut ‘pacarku’ bukan ‘mantan pacar’. Di awal kenal, sebelum kami benar-benar dekat, aku pernah bertanya padanya, apakah dia memiliki kekasih karena aku saat itu tak mau jadi orang ketiga. Lalu, ia bilang ‘punya’ dan tinggalnya jauh, katanya di Purwakarta. Setelah itu, kami dekat. Sesekali aku menanyakan hubungan mereka, dia jawab masih terjalin meski kadang naik turun. Sampai pada suatu hari, Om Willy ingin kedekatan kami disahkan dalam sebuah pernikahan. Natha menyanggupinya dan menegaskan jika dia menyayangiku dan ingin hidup bersamaku. Sejak itu, aku tak pernah lagi mempertanyakan hubungannya dengan perempuan lain lalu aku cukup menyimpulkan ‘sudah putus’. Aku membuka lembaran baru hidupku sebagai istri Natha tanpa mengingat-ngingat masa lalu kami. Tapi, kini... ia menyebut ‘pacarku’...? Mungkinkah sebenarnya hubungan mereka masih terjalin? Dalam beberapa hari terakhir, aku sempat melihatnya gelisah. Seperti ada beban berat yang tengah mengganggu pikirannya. Kupikir hanya soal pekerjaan. Atau kekecewaannya karena tak bisa mengajakku serta berlebaran di rumah orang tuanya. Kalau begitu, bisa jadi, ada hubungan dengan perempuan yang katanya sekarang ‘pacar’. Aku : Kenapa dengan dia? Kamu sudah putus dengannya kan? Natha : Dia... mau berlebaran di rumah ini. Dadaku berdegup kencang. Tanganku seketika bergetar. Jemariku nyaris tak mampu mengetik balasan. Hingga datang pesan lagi dari Natha. Natha : Selama seminggu. Aku : Kenapa kamu nggak menolak? Natha : Raisa, pahamilah... gadis itu... suka kontak sama ibuku juga adik-adikku, dan mereka tahunya, dia itu pacarku. Aku : Mereka mengira kalian belum putus? Natha tak membalas. Kukirim lagi pesan. Aku : Dan kamu biarkan anggapan mereka begitu? Natha : Ya, Raisa. Aku : Kamu lebih nyaman mereka percaya itu daripada mengakui kamu sudah menikah denganku? Natha : Bukan begitu. Aku : Terus gimana? Natha : Aku cuma nggak mau bikin mereka kecewa. Aku : Kecewa kalau tahu kamu putus sama cewek itu? Natha : Ya. Aku : Jadi kamu tetap biarkan anggapan mereka kalau kalian masih pacaran? Natha : Ya, maafin aku. Aku : Nggak perlu minta maaf. Natha : Raisa, pahamilah situasiku saat ini. Aku : Karena cewek itu datang dan mau berlebaran di rumah ortumu? Natha : Ya. Aku : Oh begitu maumu? Tapi memang, kalian masih pacaran? Kamu masih anggap dia itu pacarmu? Bahkan setelah aku jadi istrimu, begitu? Akhirnya bersusah payah aku mengetik balasan. Hubungan kami nggak seperti yang kamu bayangkan. Aku tersenyum kecut membaca balasannya. Seminggu dia bersama gadis itu dalam satu atap dengan restu ibumu, apa yang lebih baik kubayangkan? Mereka akan berlebaran bersama. Kedua orangtuanya akan memperkenalkan gadis itu sebagai pacar anaknya, mungkin sebagai calon tunangan. Atau bisa saja, calon istrinya. Kedua adiknya akan melendot manja di lengan gadis itu. Saudara-saudara Natha akan berkunjung ke rumah. Lalu berkenalan dengan gadis itu. Lalu memberi dukungan penuh pada Natha. Lalu berkata-kata penuh motivasi. Segeralah menikah, Natha, apalagi hidupmu sudah mapan begini, jangan ditunda-tunda lagi. Biar ibumu bahagia.... Natha akan mengajak gadis itu berkunjung juga ke handai taulan. Pasangan yang serasi. Sungguh orang-orang akan memandang begitu. Gadis itu tak akan mau jauh dari Natha. Di luar rumah. Di dalam rumah apalagi. Dan boleh jadi, gadis itu diperkenankan keluar masuk kamar. Pikiranku berkelana liar ke rumah Natha. Di rumahnya hanya ada tiga kamar. Satu kamar orang tuanya. Kedua kamar neneknya. Ketiga kamar Natha. Kedua adiknya tinggal di pesantren dan hanya seminggu sekali pulang ke rumah. Gadis yang dia masih anggap ‘pacar’ itu tidak mungkin tidur di kamar orang tua Natha atau kamar neneknya, pastilah di kamar Natha. Tidur sendirian? Kepalaku menggeleng. Aku tak menjamin gadis itu tidur sendirian. Dan Natha akan menemaninya. Mataku terpejam. Bagaimana seorang suami yang terpisah jauh dari istrinya? Lalu ada perempuan lain di rumahnya. Di kamarnya. Perempuan yang sudah lama menjadi pacarnya meski sebatas hubungan jarak jauh. Jangan sampai terjadi.... Kuremas ujung jilbabku. Dadaku menyala. Api cemburu menguasai. Kamu masih mencintainya? Lalu, kenapa kamu tak mau berterus terang dari awal? Kenapa kamu siap ketika pamanku memintamu menikahiku? Apa itukah alasanmu untuk memutuskan nikah siri dengan alasan sementara karena ibumu yang perlu kamu beri penjelasan terlebih dahulu? Kupikir ulang lagi, bukan hanya alasan ibumu. Tapi, kamu memang masih mencintai gadis itu. Jadi, kamu sebenarnya terpaksa menikahiku? .......... Selengkapnya bisa dibaca di KBM app Judul : Mencintaimu Setelah Bercerai Penulis : Komala Sutha Platform: aplikasi KBM Status : ongo #fyp #dramarumahtangga #ceritakehidupan
Advertisement Advertisement
Menu Post
Laporkan Konten
Bagikan Posting Ini
Ikuti Pengguna

Blokir Pengguna

Hapus Postingan

Apakah Anda yakin ingin menghapus postingan ini? Tindakan ini tidak dapat dibatalkan.

2 Komentar