Laporkan konten ini jika melanggar ketentuan, mengandung materi sensitif, atau hak cipta.

Ratapan Anak Tiri

Ratapan Anak Tiri gambar oleh Bella Melani
Sinopsis Namanya Amara. Umur 9 tahun ketika ibunya meninggal karena sakit. Satu tahun kemudian, ayahnya menikah lagi dengan seorang janda cantik beranak satu bernama Rania. Sejak hari itu, rumah yang dulu penuh tawa berubah menjadi rumah yang penuh hitungan. Hitungan siapa yang lebih disayang, siapa yang lebih pantas makan, siapa yang pantas sekolah. Amara tidak pernah membenci ibu tirinya. Dia hanya ingin dipeluk lagi. PROLOG Ibu bilang, kalau rindu, lihat saja bintang paling terang. Itu Ibu. Malam ini bintangnya tidak ada. Hujan. Jadi Ibu juga tidak ada? - Diari Amara, 10 tahun. BAB 1: Gaun Kuning Hari pernikahan ayah, Amara memakai gaun kuning peninggalan ibunya. Gaun itu sudah sempit di lengan. "Amara, nanti panggil Ibu ya ke Tante Rania," bisik ayah. Amara mengangguk. Dia sudah menyiapkan lukisan untuk ibu baru. Gambar rumah dengan 4 orang. Di pelaminan, Bu Rania tersenyum, mengambil lukisan itu. "Cantik sekali, Amara." Malamnya, Amara melihat lukisan itu di tempat sampah, terlipat. Kevin merobeknya untuk alas mobil-mobilan. Itu pertama kalinya Amara belajar, tidak semua senyum itu tulus. BAB 2: Dua Piring yang Berbeda Rumah mulai punya aturan baru. Kevin minum susu cokelat dalam gelas besar. Amara minum air putih. Kevin boleh les piano. Amara diminta berhenti les melukis karena "boros uang". "Kamu kan sudah besar, Amara. Harus mandiri," kata Bu Rania sambil tersenyum di depan Ayah. Saat Ayah berangkat kerja jam 6 pagi, tugas Amara bertambah: menyapu, mengepel, menjaga Kevin, mencuci piring. Jika tidak bersih, tidak boleh makan siang. Amara tidak pernah mengadu. Setiap Ayah pulang dan bertanya, "Gimana sekolah, Sayang?" Amara selalu jawab, "Baik, Yah." Karena dia takut. Takut kalau dia mengadu, Ayah akan meninggalkannya juga seperti Ibu. BAB 3: Sepatu yang Hilang Ujian semester. Amara juara 1. Ayah bangga setengah mati, menjanjikan sepatu baru. Sepatu baru itu datang, warna putih. Amara memeluknya tidur. Dua hari kemudian, sepatu itu hilang. Bu Rania bilang, "Mungkin diambil kucing." Sorenya Amara melihat Kevin memakai sepatu itu main bola di lumpur. Kebesaran. Amara menangis diam-diam di kamar mandi, tempat satu-satunya yang tidak ada yang mendengar. Ia membuka diari ibunya yang ditinggalkan. Jadilah anak yang kuat, bahkan ketika dunia tidak baik padamu. BAB 4: Titik Balik Amara pingsan di sekolah karena belum makan sejak kemarin. Wali kelasnya, Bu Sari, datang ke rumah. Ayah kaget. Baru dari Bu Sari dia tahu Amara sering tidak bawa bekal, seragamnya robek, dan selalu bilang "Ibu saya tidak sempat masak." Malam itu untuk pertama kalinya, Ayah dan Bu Rania bertengkar hebat. "Aku menikahimu untuk menemani anakku, bukan menyiksanya!" teriak Ayah. Bu Rania menangis, "Kamu pikir gampang? Aku juga punya anak! Aku takut Kevin tersisih! Aku takut kamu masih mencintai arwah istrimu lebih dari aku!" Amara mendengar semua dari balik pintu. Untuk pertama kalinya dia mengerti, ibu tirinya juga sedang ketakutan, bukan sekadar jahat. BAB 5: Ratapan yang Didengar Ayah tidak menceraikan Bu Rania. Tapi Ayah berubah. Ayah mulai mengantar Amara sekolah. Ayah memasak sendiri bekal Amara diam-diam jam 5 pagi. Ayah memperbaiki gaun kuning itu. Puncaknya, saat ulang tahun Ibu kandung Amara, Ayah mengajak Amara dan Kevin ke makam. Bu Rania ikut, meski canggung. Di sana, Kevin bertanya polos, "Kak, ibu kakak di sini ya?" Amara mengangguk. Kevin lalu meletakkan bunga yang dia petik di atas makam itu. "Kakak jangan sedih lagi. Kevin ada." Amara pecah. Untuk pertama kalinya setelah 3 tahun, dia menangis keras di depan orang lain. Bukan ratapan manja. Tapi ratapan anak yang terlalu lama menahan rindu. Bu Rania memeluknya dari belakang. Kaku, canggung, tapi hangat. "Maafkan Ibu, ya, Ra..." EPILOG - 10 Tahun Kemudian Amara kini 22 tahun, mahasiswi Seni Rupa dengan beasiswa. Lukisannya yang pertama kali dipamerkan berjudul "Dua Piring". Di lukisan itu ada dua piring di atas meja. Satu berisi steak, satu berisi nasi dan garam. Tapi ada dua tangan kecil yang saling menggenggam di bawah meja. Kevin yang sekarang SMA datang membawa bunga. Bu Rania yang sudah jauh lebih lembut datang membawa rendang - rendang pertama yang ia masak khusus untuk Amara dan berhasil. Ayah memeluk ketiganya. Ratapan itu akhirnya selesai. Bukan karena lukanya hilang. Tapi karena akhirnya, ada yang mau mendengarkan. - TAMAT -
Advertisement Advertisement
Menu Post
Laporkan Konten
Bagikan Posting Ini
Ikuti Pengguna

Blokir Pengguna

Hapus Postingan

Apakah Anda yakin ingin menghapus postingan ini? Tindakan ini tidak dapat dibatalkan.

5 Komentar